Entah seberuntung apa aku ini memiliki keluarga yang masih utuh dan saling menyayangi. Memiliki mereka semakin menyempurnakan hidupku.
Ketika sebuah masalah datang, mereka selalu ada.
Kami adalah keluarga yang sederhana, tapi romantis.
Terdiri dari Bapak Sutrisno, Ibu Ai Wartini , Kakak laki-lakiku terganteng Rahmah Ferdiansyah, dan aku sediri.
Biar aku ceritakan sedikit sedikit dari sifat mereka.
Pertama, Bapak. Wuihhhh dia itu bapak tekeren sejagat raya, perjuangnnya, tanggung jawabnya. The real bapake in the world wkwk. Tapi serius, dia nggak pernah ngeluh masalah keadaan keluarga, baik dari luar maupun dari dalam. Dia selalu ingin terlihat baik di depan anak-anaknya yang sering kurang peka, padahal dia menyimpan segudang masalah, ini itu, tapi tetap dia nggak mau kita tau. Hobinya sama banget sama aku, jalan jalan, travel, kuliner, menjelajah. Pengetahuannya tentang dunia membuat aku jadi ingin tau juga. Paling aku suka darinya adalah, dia selalu ngasih ijin apapun yang aku kerjakan, dia mendukung, selama kegiatannya positif.
Rasanya aku rindu makan bakso bersamanya, jalan bersama, tertawa saat di dapur gara gara masakan kita nggak ada yang bener, rindu masa bersama di ruang tamu sambil mijitin kakinya yang pegal demi menghidupi keluarga kami, rindu saat berlibur berdua. Apapun tentangnya aku rinduuuuuu..
Kedua, mamah. Nah ini nih wanita super hero yang melengkapi hidupku. Malaikat tanpa sayap yang nggak pernah lelah ngurusin keluarga.
Aku dan mamahku sangat berbeda, dari segi wajah, badan wkwk, sifat semuanya deh, hampir mendominasi tidak ada dalam diri aku. Mamah lebih peka, aku orangnya kurang peka. Mamah rajin, aku males. Mamah penakut, aku juga wkwk, engga deh mamah lebih kepenakut anaknya kenapa napa gitu, aku lebih seneng jalan sendiri, mamah gapernah berani meskipun beli martabak kedepan doang wkwk.
Koki terkereeeeen, Farah Quin lewaaat, masakan mamah adalah masakan paling favorit di keluargaku, pinter masak ceritanya.
Nggak ada kata lain selain apa ya, aduuuh sulit sekali diungkapkan, aku tidak mampu menggambarkannya, saking bahagianya mempunyai mamah sepertinya, aku merasa menjadi orang paling beruntung.
Ketiga, si kaka gantengkuuu satu satunya. Kita berbeda 5 tahun, lumayan jauh. Tapi apa? Kita nggak pernah akur, setiap kali ketemu pasti ada bahan buat pertengkaran kita, entah masalah pekerjaan rumah, eh omong omong sebelumnya nih, di keluarga kami pekerjaan rumah di bagi bagi, masing masing pegang minimal satu kerjaan rumah, gitu.
Nah lanjut, makananpun kita masih sering bertengkar, kadang kesel banget sama dia, kenapa dia diciptkan laah, apa laah ini itu segalanya. Bahkan saat lebaranpun aku nggak pernah minta maaf sama dia wkwk
Tapi semuanya berubah sejak aku masuk SMA, mungkin udah pada dewasa, lalu aku juga jauh dari mereka, mungkin dia kangen bertengkar sama aku, entah apa sejak itu semuanya berubah, dia jadi baiiiiiiik, bertengkar masih lanjut, tapi galama, gitu. Malah lebih kompak.
Kalian pernah nggak sih ngerasa gengsi jalan sama orangtua? Lebih baik kebiasaan gensi itu buang jauh jauh dulu dehh, rasakan gimana kerennya. Mereka lebih romantis dari yang kalian kira tau, ngapain jalan sama pacar gitu, nggak dijajanin, coba kalo sama orangtua, pasti di jajanin donggg wkwk.
Bagaimanapun jugaaa aku rinduuuuu pada mereka, sekarang kita semua terpisah oleh jarak ratusan kilo meter, semakin sulit untuk bisa berkumpul makan bakso bersama seperti dulu.
Aku harus menyelesaikan sekolahku, kakakku dan bapak sama sama dipindahkan ke daerah Tangerang, sementara mamahku jaga rumah hanya sediri di Bandung.
Ternyata keromantisan sebuah keluarga terungkap saat kita saling berjauhan, itu kerasa banget. Kangen.
Aku selalu meminta meskipun kita berpencar, tapi keluarga romantis kita jangan pernah terpencar.
Rinduuuuuu sekali rasanya pada mereka. Semoga Allah tetap menjaga keluargaku, Aamiin..
Sekian yaaaa,... see u