Thursday, 4 February 2016

Ketika hati belum rela melupakan

Assalamualaikuum.
Dalam bahasan kali ini cukup lebay, tapi biar kekinian gitu kayak orang orang, maka aku ciptakan postingan lebay ini cekidott..

Dalam hidup rasanya tidak mungkin kita tidak mengenal cinta pun rasa sayang. Entah itu perasaan cinta sayang pada orangtua, kakak, suami, istri, anak atau siapapun dan apapun.
Biar kita artikan apa itu cinta. Cinta adalah rasa kecenderungan ingin memiliki sesuatu. Cukup jelas.
Lalu apa jadinya setelah kita memilikinya kita dipaksa untuk melupakannya? Membuang jauh semua rasa? Pasti berat bukan.
Merasa sangat kehilangan, apalagi dia yang telah merubah hidup kita, merubah pribadi kita. Memang bukan kemustahilan, tapi memang setidaknya kemungkinan.
Melupakan itu rasanya  seperti menyabut gigi yang tidak longgar. Melupakan itu rasanya bagai melupakan diri sendiri, itu tidak mungkin.
Lalu apa selain melupakan? Membenci? Membencipun tidak jauh berbeda, membenci orang yang kita cintai bagai membeci diri sendiri pula, jawabannya tidak mungkin juga, toh tiap hari diri sendiri kita rawat, tiap jengkal kita perhatikan.
Berat memang menghapus figur yang kita banggakan, apalagi telah menjadi bagian dalam hidup kita.
Dari sekelumit masalah diatas, ada sebuah jawaban. Tentu berat, apa?
Mengikhlaskan, biarkan dia pergi.
Biarkan hati menerima kepergiannya, jangan disumbat.
Ingat, semuanya dari Allah akan kembali pada Allah.
Belajar ikhlas..

"Bagaimana kita bisa memiliki, sedang pada hakikatnya dirisendiri pun bukan milik kami"-Tere Liye

No comments:

Post a Comment