Siapa yang tidak mengalami masa remaja? Tentunya setiap orang dalam melewati
fase hidupnya akan mengalami masa remaja. Sebuah fase dalam perjalanan hidup yang setiap
orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Termasuk pengalaman dalam melewati
masa pubertas. Siapa sih remaja itu?
Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2014, remaja adalah
penduduk dalam rentan usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana (BKKBN), rentan usia remaja 10-14 tahun dan belum menikah. Jumlah kelompok
usia 10-19 tahun di Indonesia menurut Sensus Penduduk tahun 2010 sebanyak 43,5 juta jiwa
atau sekitar 18% dari jumlah penduduk. Di dunia diperkirakan kelompok remaja berjumlah
1,2 milyar atau 18% dari jumlah penduduk dunia (WHO, 2014). Dari data tersebut, remaja
cukup banyak mengisi populasi di dunia ini, ya.
Remaja sangat sulit ditebak, masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan
dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis ataupun intelektual. sifat khas dari
anak remaja ini adalah mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, senang akan petualangan
dan tantangan. Oleh karena itu, kadang remaja cenderung berani menanggung risiko atas
perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang.
Remaja, kadang kali merasa bingung atas apa yang terjadi pada dirinya. Terutama saat
perubahan fisik pada masa pubertas dimulai. Pada masa itu, seharusnya remaja sudah
mengetahui dan memersiapkan apa yang harus dilakukan. Termasuk dalam menjaga
kesehatan sistem reproduksinya yang mulai aktif. Seksualitas bagi remaja merupakan hal
yang tabu. Banyak remaja bahkan saya sendiri saat baru pubertas, berasumsi bahwa semua
yang berhubungan dengan seksualitas dianggap pikiran kotor dan berpikiran bahwa itu adalah
kegiatan orang dewasa. Sebagai remaja, kita tidak usah tahu tentang hal itu karena belum
waktunya. Apakah asumsi seperti itu benar?
Ternyata, asumsi itu tidak benar. Justru sebaliknya, remaja harus bersiap dan belajar
tentang edukasi seks sejak dini. Terutama dalam menjaga kesehatan reproduksinya.
Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial secara utuh.
Tidak semata mata bebas dari penyakit atau cacat yang berkaitan dengan sistem reproduksi.
Kenapa harus remaja, ya?
Berdasarkan survei dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, pada
reaja usia 15-19 tahun, proposi terbesar berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun.
Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja lakilaki yang berusia 15-19 tahun mulai
berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun. Pada usia tersebut, dikhawatirkan
belum memiliki keterampilan hidup yang memadai. Sehingga mereka berisiko memiliki
perilaku pacaran yang tidak sehat, antara lain hubungan seks pranikah.
Seks aktif pranikah pada remaja berisiko pada kehamilan remaja dan penularan
penyakit menular seksual. Kehamilan yang tidak direncanakan pada remaja perempuan dapat
berlanjut pada aborsi dan pernikahan usia dini. Kedua nya tentu berdampak terhadap masa
depan remaja tersebut, janin yang dikandung dan keluarganya.
Berdasarkan data tersebut, sangat jelas bahwa benih-benih remaja yang sehat
reproduksinya sangat harus disiapkan, apalagi dengan adanya data terbaru mengenai penyakit
menular seksual seperti HIV/AIDS. Indonesia menjadi negara dengan urutan ke lima di Asia
yang paling beresiko HIV/AIDS (Kemenkes, 2013). Tapi, darimana remaja bisa mendapatkan
akses edukasi dan pelayanan reproduksi untuk remaja ya?
Menurut International Conference Population and Development (ICDP) tahun 1994
di Kairo, ruang lingkup pelayanan kesehatan reproduksi mencakup kesehatan ibu dan anak,
keluarga berencana, pencegahan dan penanganan komplikasi aborsi, pencegahan dan
penanganan intertilitas, kesehatan reproduksi usia lanjut, deteksi dini kanker saluran
reproduksi dan kesehatan reproduksi lainnya mencakup kekerasan seksual, sunat perempuan
dan lain lain.
Di Indonesia, sejak pertemuan bersama ICDP di Kairo tersebut, perhatian terkait
kebutuhan remaja dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi mulai meningkat. Pada
tahun 2001, pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan mengambangkan program
pelayanan kesehatan dengan memperkenalkan pelayanan kesehatan reproduksi yang terpadu
di tingkat dasar (Puskesmas).
Pelayanan tersebut mencakup empat komponen Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial
(PKRE). Tahun 2003, PKRE berganti nama menjadi Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR), (Depkes RI, 2005).
Pelayanan kesehatan reproduksi semakin dekat kita akses, PKPR sudah pasti
ditujukan untuk remaja dalam mendapatkan informasi kesehatan reproduksi maupun
konsultasi. Dengan adanya program ini, tentu sudah sangat baik. Namun apakah semua
remaja sudah menemukan titik nyaman mengakses ataupun sudah mengetahui adanya PKPR
ini?
Popularitas PKPR ini ternyata kurang memiliki eksistensi di kalangan remaja, sangat
jarang para remaja, untuk datang ke puskesmas dan secara sengaja memeriksakan diri
ataupun berkonsultasi. Dibeberapa wilayah, PKPR sudah dikenal di sekolah-sekolah bertaraf
SMP dan SMA, karena gesitnya petugas yang mensosialisasikan program tersebut, tapi tidak
sedikit remaja lain yang tidak mengetahui sama sekali tentang apa itu PKPR yang memang
memiliki sasaran yaitu para remaja.
Kurangnya pendekatan terhadap remaja terkait program yang disediakan pemerintah,
membuat remaja menjadi semakin jauh dalam menyadari ataupun memahami hak mereka
atas kesehatan seksual dan reproduksi mereka sendiri. Fakta dilapangan, memang lembaga
non-pemerintah bahkan lebih gesit menangani permasalahan remaja untuk merangkul mereka
ke arah yang lebih nyaman.
Banyak cara mereka dalam mensosialisasikan programnya, selain memanfaatkan
sosial media, mereka terjun langsung ke lapangan untuk benar-benar meyakinkan bahwa data
ataupun rahasia mereka akan terkunci secara aman. Remaja sangat sensitif, mereka menyukai
orang-orang yang ramah, sangat bersahabat, merasa sebaya, mereka butuh didengarkan dan
tentunya tidak ingin mendapatkan perilaku diskriminatif. Dan lembaga non-pemerintah
seperti PKBI melalui programnya bernama Mons telah membuktikan banyak remaja yang
mulai terbuka dan menyukai untuk berkunjung ke klinik ramah remaja tersebut.
Dari data yang terkumpul dalam SDKI 2012, Kesehatan Reproduksi Remaja badan
pusat statistik menyebutkan bahwa remaja cenderung suka berdiskusi dan mendapatkan
informasi kesehatan reproduksi, selain orangtua, peranan dari teman sebaya, guru dan tenaga
kesehatan berpotensi untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan membantu
menjadi remaja yang sehat.
Untuk popularitas dari PKPR yang belum familiar, mungkin itu memang sebuah hal
yang wajar, karena memang keberadaan PKPR ini baru ditargetkan rampung sekitar 45%
pada akhir tahun 2019. Jadi belum banyak remaja mengetahui keberadaannya yang nantinya
akan sangat berada dekat degan kita.
Tentunya jika PKPR ini sudah rampung 100%, jangan ragu untuk datang kesana, ya.
Keterlibatan remaja sangat diperlukan karena program ini dibuat untuk memenuhi
hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja. Kita semua punya hak untuk
berpartisipasi secara aktif dan menggunakanan layanan tersebut, kamu juga punya hak, lho.
Partisipasi kita dapat membuat program ini dapat terus berjalan.
Menurut pendapat saya, pemerintah dalam menjalankan program PKPR ini harus
banyak mencontoh program yang sudah dijalankan oleh non-pemerintah. Selain sebagai
referensi, tentunya untuk meningkatkan pelayanan dan kenyamanan juga. Membuat rasa
nyaman itu tidak mudah. Apalagi pada remaja. Jangan lengah, tetap merangkul lingkungan
yang menjadikan remaja merasa dekat. Lingkungan yang menjadikan remaja semakin sehat.
Semoga pemerintah terus mengevaluasi dan menyempurnakan program PKPR ini. Sehingga
para remaja terdorong untuk menggunkanan layanan kesehatan reproduksi ramah remaja,
agar program pemerintah bukan tinggal nama, tapi ada aksi nyata.
Daftar Pustaka
Informasi Kependudukan, K. d. (Edisi 7, 2018). Jurnal Keluarga. Jakarta.
RI, P. D. (n.d.). InfoDatin Reproduksi Remaja. JAKARTA: PUSAT DATA DAN
INFORMASI KEMENKES.
Rohmayanti1, I. T. (2015). PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA. Jurnal
Kesehatan Reproduksi: 12 - 20.
Situmorang, A. (2011). PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DI
PUSKESMAS: ISU DAN TANTANGAN. Vol. VI, No.2, 2011.
No comments:
Post a Comment