Monday, 15 April 2019

Resensi Buku Sanggeus Halimun Peuray


                         
1.      Judul buku      : Sanggeus Halimun Peuray
2.      Pengarang       : Aam Amilia
3.      Penerbit           : Rahmat Cijulang
4.      Tahun terbit     : 1992, Bandung
5.      Tebal buku      : 76 halaman
6.      Isi Resensi Buku
Diceritakan ada sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Pasangan tersebut bernawa Awit dan Inu. Awit merupakan anak dari orang kaya dikampungnya dan Inu merupakan mahasiswa asal Garut yang sedang kuliah di salah satu Unniversitas di Bandung. Orangtua keduanya memiliki tali hubungan yang erat sejak dulu sebelum Awit dan Inu lahir.
Pernikahan yang tidak didasari rasa cinta akhirnya mereka langsungkan. Inu menikahi Awit bukan karena dasar apapun, hanya karena Inu ingin membalaskan budi pada keluarga Awit yang telah membiayai seluruh pengobatan ibunya di rumah sakit. Ibu Inu jatuh sakit karena ditinggalkan suaminya yang terlebih dulu meninggal karena sakit.
Terlebih Inu merasa tidak memiliki harga diri karena Awit telah hamil oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab dan kabur meninggalkan Awit yang sedang hamil muda. Inu mau menikahi Awit karena permintaan ibunya sebagai balas budi atas apa yang diberikan keluarga Awit pada ibu Inu.
Inu sangat membenci Awit yang sedang mengandung yang bukan anak Inu, sedangkan Inu harus bertanggung jawab atas kelahiran anak tersebut. Inu merasa sakit hati dan tidak dihargai. Dia berpikir serendah ini kah harga dirinya hanya karena nominal uang untuk pengobatan ibunya sehingga Inu yang harus membalaskan budinya. Sebenarnya kekuarga Awit tidak mempermasalahkan tentang biaya pengobatan ibu Inu selama di rumah sakit. Hanya saja ibu Inu merasa berhutang budi yang begitu besar. Dan hanya dengan cara ini ibu Inu merasa bahwa hutang budi itu akan lunas demi menutupi aib keluarga Awit yang selama ini dinilai keluarga terpandang di kampungnya.
Dimalam pertama pernikahan Awit dan Inu, mereka malah bertengkar dan Inu merasa murka atas apa yang dilakukan nya tempo hari, yaitu mengikat tali pernikahan bersama Awit. Inu kecewa terhadap dirinya yang tidak bisa membayar budi dengan material malah dengan hal seperti ini.
Disisi lain Inu juga memiliki pujaan hati yang sedang menunggu di Garut bernama Mila. Mila merupakan gadis cantik yang selama ini memiliki ikatan dengan Inu. Kabarnya Mila tidak mengetahui kabar pernikahan Inu dengan Awit di Bandung. Inu sangat merasa berdosa telah mengkhianati Mila sebagai kekasihnya yang selama ini setia padanya. Inu sangat mencintai Mila, tapi dia tidak tau harus berbuat apa karena dia telah terikat dengan Awit dan melangsungkan pernikahan palsu.
Kian hari kandungan Awit semakin membesar, Inu berencana meninggalkan Awit dan pulang ke Garut utuk menikahi Mila setelah Awit melahirkan. Awit sangat mencintai Inu, dia tidak peduli bahwa Inu mungkin akan meninggalkannya suatu hari nanti, Awit tetap cinta dan sabar mengahapi Inu yang kian hari terlihat semakin benci apalagi melihat jabang bayi yang dikandungnya. Entah apa yang mendasari rasa cinta Awit pada Inu, padahal mereka tidak lebih dekat selama kurang dari dua minggu.
Inu merasa terlalu muak dan lama sekali menunggu sang jabang bayi lahir, Mila tidak bisa menunggu tanpa kapastian terlalu lama. Inu sangat ingin bertemu dengan Mila dan menjelaskan semua nya. Bahwa Inu masih perjaka tidak pernah menyentuh Awit, bahwa Inu masih mencintai Mila sampai kapanpun, bahwa Inu akan meninggalkan Awit setelah jabang bayinya lahir, dan banyak sekali yang akan dijelaskan Inu pada Mila ketika nanti bertemu.
Akhirnya Inu pergi meninggalkan Awit yang memasuki hamil tua, tidak peduli akan cibiran orang dan keluarganya yang meninggalkan Awit sendiri saat kondisi hamil tua. Baginya yang terpenting adalah bertemu dengan Mila dan menjelaskan semuanya.
Akhirnya Inu pergi ke Garut untuk menemui kekasih yang selama ini dipujanya yaitu Mila. Diperjalanan Inu membayangkan betapa bahagianya Mila bertemu dengan Inu, laki-laki yang selama ini ditunggunya dengan kesetiaan. Inu sangat siap menjemput Mila dan membawanya kemanapun mereka mau. Semua hal tentang kebahagiaan di bayangkan oleh Inu, hingga tidak terasa perjalanan yang memakan waktu terasa lebih pendek dari biasanya.
Akhirnya Inu sampai di Garut dan pulang ke rumahnya beristirahat. Selang satu hari Inu langsung menemui Mila dan ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Inu, ditakutkan Mila lebih tahu dari cerita oranglain, itu akan lebih menyakiti Mila. Tapi nyali Inu tidak sebesar apa yang sudah direncanakan, Inu tidak berani bilang tentang apa yang terjadi. Pertemuan mereka hari itu sebatas melepas rindu hingga malam tiba.
Sebelumnya Yuyum pernah berkata ketika Inu pulang ke rumah, bahwa Mila sering jalan dengan lelaki lain, tapi Yuyum tidak secara rinci menceritakan apa yang dia lihat, karena ibunya berpesan untuk tidak menyakiti hati dan menggangu pikiran kakaknya yang sedang ditekan ujian akhir dan tugas kuliahnya.
Hanya tinggal menghitung bulan, Awit akan segera melahirkan. Inu sangat benci terhadap Awit, sehingga Inu jarang pulang ke rumah Awit. Inu memilih tinggal di kost-kostan bersama temannya bernama Obos.
Selang satu bulan dari kepulangannya ke Bandung, Mila mengirim surat pada Inu, dalam suratnya diceritakan bahwa Mila sudah mendengar cerita tentang apa yang dilakukan Inu di Bandung. Mila sudah mengetahui bahwa Inu telah menikah dengan Awit tanpa sepengetahuan Mila. Mila merasa kecewa karena mereka telah mengikat janji untuk melangsungkan pernikahan setelah Inu lulus kuliah. Mila merasa terkhianati. Dalam suratnya diceritakan bahwa Mila telah menemukan pengganti Inu, dan akan melangsungkan pernikahan dua minggu setelah surat itu dibaca Inu. Hati Inu sungguh hancur, bisa secepat itu Mila melupakan Inu. Melupakan janji yang sudah dirajut bertahun-tahun. Inu membakar surat dan foto imut Mila. Dan semua kenangan yang pernah mereka ukir.
Dari surat itu, Inu semakin menyalahkan pada Awit. Bahwa dia benar-benar telah menghancurkan hidupnya. Karena pernikahan palsu ini lah Inu merasa bawha Mila meninggalkan Inu. Mengkhianati kesetiaanya. Inu semakin benci pada Awit yang saat itu Awit sedang hamil tua. Inu berinisiatif untuk pergi, karena pemikiraannya yang tidak karuan dan penuh amarah. Pada hari itu pula Awit akan segera melahirkan. Awit kesakitan dan meminta tolong. Tanpa pamrih, Inu tidak peduli malah mencaci maki Awit yang sudah kontraksi dan segera melahirkan. Akhirnya dia pergi dengan penuh amarah meninggalkan Awit yang tergeletak di pintu rumah.
Inu pergi ke kost-kostan Obos sahabatnya dan menceritakan  kehancuran hidupnya. Inu menceritakan Mila yang akan segera menikah, dan menceritakan Awit yang mempersuram hidupnya. Tanpa Inu sadari bahwa selama ini Awit lah yang berusaha sabar menghadapi Inu. Tapi Inu terasa buta hatinya, merasa bahwa Mila lah satu-satunya harapannya. Sehingga ketika terputusnya tali Inu dan Mila maka itulah akhir dari segalanya.
Obos memberi solusi yang tidak baik terhadap Inu. Obos menawarkan banyak wanita cantik yang masih mau pada Inu. Satu persatu Obos kenalkan pada Inu, jumlahnya lumayan banyak sekitar lima orang sebagai pelampiasan. Tapi apa daya, Inu tidak merasakan cinta pada kelimanya. Hanya sekedar suka yang mendasarinya.
Obos menjadi pemanas bagi Inu, dia mendesak Inu agar melampiaskan rasa kesalnya dengan melakukan hubungan terlarang pada Ira, salah satu dari lima wanita yang dipilihkan Obos untuk Inu. Pada hari itu, nafsu dan amarah Inu tidak terkendali, sehingga terjadilah hubungan terlarang diantara Inu dan Ira.
Satu bulan Inu tidak pulang ke rumah Awit, juga tidak memberi kabar pada keluarganya di Garut. Akhirnya Yuyum mengirimi Inu surat. Dalam suratnya berisi bahwa Yuyum dan ibunya merasa khawatir karena mendapat kabar dari Awit Inu tidak ada kabar. Sehingga Yuyum akan ke Bandung dan bertemu dengannya. Isi surat lain menceritakan bahwa Mila sudah melangsungkan pernikahan, dan Yuyum memberitahu yang sebenarnya pada Inu. Bahwa Mila sudah lama menjalin hubungan dengan lelaki yang menikahinya itu jauh sebelum Inu memutuskan melangsungkan pernikahan palsu dengan Awit. Mila sering jalan berdua. Dari sana Inu merasa berdosa dan menyesali apa yang telah diperbuatannya. Dia menyesal telah menyalahkan Awit sebagai biang racun dari berakirnya hubungan dia dengan Mila.
Dari situlah Inu sadar bahwa selama ini yang telah dia lakukan salah terhadap Awit. Inu baru sadar bahwa cinta kasih yang diberikan Awit adalah tulus. Inu memang murka karena Awit telah menjual dirinya terhadap lelaki hidung belang yang tidak mau bertanggung jawab terhadapnya. Inu merasa jijik, tapi apa yang telah Inu dan Ira perbuat juga merupakan perbuatan yang dilaknat. Apa bedanya Inu dengan Awit jika Inu juga melakukan hal serupa?
Dia berpikir dan ingat apa nasihat ibunya. Bahwa manusia tidak luput dari dosa dan khilaf. Mungkin Awit saat itu berada di posisinya, yaitu khilaf. Dia termakan omongan hidung belang sehingga terjadilah perbuatan laknat itu dan menimpa dirinya. Sama seperti apa yang dilakukanya terhadap Ira malam itu. Bukan berarti Awit merupakan wanita jalang yang haus akan belaian lelaki manapun. Inu baru menyadarinya.
Akhirnya Inu memutuskan pulang pada Awit dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Sudah tidak ada pernikahan palsu. Inu ingin serius menjalin hubungan dengan Awit dan meminta maaf.
Saat pulang ke rumah Awit, ternyata Awit sudah pindah dan rumahnya dihuni oleh kedua orangtuanya Awit. Awit sudah melahirkan dan memiliki bayi perempuan. Awit pindah karena dasar malu karena dicibir tetangga bahwa bayi itu tidak memiliki bapak yang jelas, karena Inu baru saja pulang lagi. Inu termengu dan membayangkan Awit yang kesepian.
Setelah Inu mengantongi alamat baru Awit, akhirnya dia pergi menemui Awit dengan maksud ingin meminta maaf atas apa yang selama ini di lakukannya. Terlihat rumah yang tidak terlalu besar, Awit tinggal bersama Mak Uti, pembantu yang sebelumnya tinggal bersama ibunya. Mak Uti menyambut bahagia atas kedatangan Inu. Setelah masuk Inu melihat ada bayi suci dikamar Awit. Sedangkan Awit tidak ada, karena Awit bekerja untuk membiayai putrinya.
Bayi mungil itu bernama Ina, nama itu Awit berikan karena dasar rasa cinta Awit yang begitu besar terhadap Inu. Mak Uti menceritakan. Inu merasa terharu dan membenci dirinya sendiri, kemana saja dirinya ini sehingga menyia-nyiakan Awit yang sangat mencintai Inu.
Hingga sore, Inu menemani bayi mungil itu akhirnya Awit datang diantar mobil mewah kedapan rumahnya. Hati Inu terbakar cemburu, tapi apa daya hubungan mereka sebatas pernikahan palsu. Inu tidak bisa menyembunyikan amarahnya sehingga Inu menjadi kasar pada Awit. Padahal tempo hari itu Inu berniat meminta maaf pada Awit.
Awit tidak memahami maksud Inu, bagi Awit kedatangan Inu hanya untuk menguruskan surat perceraian, karena dalam perjanjian mereka akan bercerai setelah bayi Awit lahir. Mak Uti bercerita pada Awit betapa Inu menyayangi Ina. Inu menggendong penuh kasih sayang setadi siang. Awit merasa tidak percaya atas apa yang dilakukan Inu.
Tiga hari kemudian Ina menderita sakit yang cukup parah. Awit tidak memiliki uang sama sekali untuk membawa Ina ke rumah sakit. Disisi lain dia ingin membuktikan bahwa dia adalah ibu yang bertanggung jawab, sehingga  Awit memutar otak, apa yang harus dilakukan. Akhirnya dengan memberanikan diri Awit meminjam uang ke kantor tempat dia bekerja untuk kesembuhan Ina.
Saat Awit pulang, Ina sudah tidak ada di kamar. Mak Uti menjelaskan bahwa Ina dibawa oleh Inu ke rumah sakit. Awit sungguh khawatir dan menyusul Ina ke rumah sakit. Dilihatnya Inu sedang menunggu Ina yang tidak berdaya. Dari sana Awit tahu bahwa Inu sungguh-sungguh mencintai Ina bayinya.
Percakapan singkat diantara mereka akhirnya tercipta setelah lama membeku. Sudah tidak ada lagi pernikahan palsu diantara mereka. Hanya kebahagiaanlah yang sekarang tercipta dengan hadirnya seorang bayi cantik benama Ina. Mereka berjanji akan tetap saling menjaga.

7.      Penilian Kelebihan dan Kekurangan Buku
a.       Kekurangan buku
1.      Penggunaan kata yang lumayan sulit dipahami karena menggunakan bahasa Sunda yang sudah jarang didengar dan digunakan.
2.      Penggunaan bahasa yang kurang pas dibaca oleh pembaca usia dini karena terdapat kata-kata diatas 18 tahun keatas
3.      Ending yang tidak jelas apakah Inu dan Awit melangsungkan hidup baru atau tidak
4.      Sulit membaca makna yang terkandung dalam ceritanya

b.      Kelebihan buku
1.      Sulit ditebak alur ceritanya
2.      Penggunakan kalimat yang baik dan puitis
3.      Mengandung banyak makna jika dipahami secara fokus
4.      Tidak bertele-tele, langsung pada inti mana yang dituju
5.      Banyak kosa kata baru yang bila diterjemahkan mengandung banyak arti.

8.      Penutup
Dalam novel Bahasa Sunda ini saya menemukan banyak kosakata baru, menemukan banyak hikmah yang terkandung dalam novel ini. Setiap novel pasti memiliki banyak kelebihan dan kekurangan yang masing-masing menajadi daya tarik dan saling melengkapi. Begitupun novel “Sanggeus Halimun Peuray” yang telah saya  baca.

Kereta Api Pangandaran



Awal tahun 2019 lalu moda transportasi PT KA Indonesia meluncurkan kereta baru yang diberi nama Pangandaran. Rute stasiun yang dilewati kereta ini dimulai dari Stasiun Gambir dan berakhir di Stasiun Banjar. Dasar dari dilahirkannya kereta baru ini untuk lebih mengenalkan potensi daerah di Jawa Barat, khususnya di Pangandaran, sehingga akan lebih mudah dijangkau para wisatawan dari luar daerah.
Awal tahun lalu kereta ini akhirnya launcing dan resmi di berlakukan. Tapi sayangnya hanya untuk satu bulan pertama saja. Untuk kereta api Pangandaran ini tarif yang dikenakan bagi penggunanya hanya Rp.1.000,- untuk satu kali perjalanan sampai Stasiun Bandung, jika sampai Stasiun Gambir tarif yang dikenakan Rp. 110.000,-. Harga yang cukup fantastis dan sangat gurih bagi para traveller, bukan?
Harga tersebut berlaku hanya sampai tanggal 31 Januari 2019. Tidak muluk-muluk, PT KAI ini memberlakukan harga Rp. 1.000,- untuk kelas Eksekutif dan Ekonomi Premium lho! Aku yang sangat beruntung tempo hari itu mendapatkan tiket kereta Pangandaran kelas Eksekutif dengan harga yang begitu fantastis!
Rencana trip liburan ke Pangandaran sebenarnya sudah terencana ratusan hari sebelum KA Pangandaran ini dikeluarkan. Hanya saja waktu dan kondisi keuangan yang belum tepat. Karena berbagai pertimbangan salah satunya karena transportasi. Ketika KA Pangandaran ini launcing dengan harga yang minim tanpa berpikir panjang hari itu aku memesan langsung tiket perjalanan ke Pangandaran satu set dengan pulang dan pergi.
Tapi ada yang sangat disayangkan, ternyata dari Stasiun Banjar menuju Pangandaran menempuh jarak yang cukup jauh. Dari Stasiun Banjar aku harus menggunakan transportasi angkot yang mengantarkanku ke Terminal Banjar dengan tarif  Rp.3.000,-. Kali itu aku berencana untuk ke Cijulang, lebih jauh dari Pangandaran. Perjalanannya hampir memakan tiga jam setengah menggunakan bus Budiman ¾ yang tidak cukup nyaman. Ongkos yang dikeluarkan Rp. 35.000,-  untuk sampai di terminal Cijulang dan Rp.25.000,- untuk sampai di Pangandaran.

Menurut pernyataan orang-orang setempat, dulu memang ada moda transportasi kereta api yang menuju langsung ke Terminal Cijulang dari Terminal Banjar. Dan itu terbukti dengan adanya rel kereta berkarat yang terlihat ketika aku melewati jalanan menuju Cijulang. Tapi karena satu dan lain hal akhirnya jalur kereta penghubung ini sudah tidak di aktifkan. Bagiku, itu sangat disayangkan. Padahal kereta api lokal tersebut bisa jadi alternatif baru buat para pelancong, traveler ataupun pemudik yang mau pulang ke daerah Pangandaran atau Cijulang. Supaya lebih mudah, cepat dan nyaman. Terutama bagi para wisatawan yang hendak ke Pangandaran atau Cijulang.
Padahal potensi wisata yang ada di Pangandaran akan lebih terkenal karena mudahnya akses menuju lokasi wisata dan pemasaran wisatanya. Pengembangan industri pariwisata memiliki pengaruh yang cukup tinggi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat daerah lokal, terutama masyarakat asli yang tinggal di sekitar lokasi wisata. Karena pariwisata menjadi  industri sektor utama, maka sektor unggulan yang mampu meningkatkan perekonomian tentu dari pariwisatanya.
Terutama bagi daerah yang merupakan otonomi baru seperti Kabupaten Pangandaran yang belum lama berpisah dari Ciamis agar tidak menjadi daerah yang tertingal, dengan memiliki potensi pariwisata, seharusnya menjadi sebuah batu loncatan untuk mengembangkan daerah tersebut dan meningkatkan pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata. Apalagi wisata pantai yang ada di Pangandaran begitu indah dan sudah terkenal, Green Canyon, Citumang dan sederet wisata indah lainnya. Pangandaran punya potensi wisata yang bagus untuk mengharumkan Jawa Barat.
Dengan adanya KA Pangandaran menurutku sudah bagus untuk mengenalkan wisata yang ada di Pangandaran. Dan nama yang diambil untuk KA nya pun begitu fokus yaitu “Pangandaran”. Meskipun untuk menuju Pangandaran para wisatawan harus berusaha lagi menggunakan moda transportasi lain. Semoga trasnportasi Kereta di Indonesia semakin maju dan bisa mengerti kebutuhan para penggunanya terutama bagi para traveller dengan tidak memasang harga yang terlalu mahal.




Siapakah Sahabat Untukmu?


Adakah diantara teman-teman yang tidak percaya akan adanya sahabat di dunia ini?

Dari kecil yang aku ketahui dalam diriku, aku merupakan anak yang memiliki lingkar pertemanan yang cukup banyak. Aku tidak suka bermusuhan atau sekedar berkonflik kecil di lingkaran tersebut. Aku senang berteman, berbagi bersama teman, atau menikmati masa kecilku bersama.
Entah karena aku merupakan orang yang senang berkawan, ketika aku kesal atau marah seakan sudah otomatis dalam beberapa menit berlalu aku telah bisa meredam rasa kesalku. Aku merasa menjadi manusia paling bersalah ketika aku marah dan kesal berlarut-larut terlalu lama. Meskipun jelas yang memiliki kesalahan bukan aku misalnya, melainkan teman-temanku.
Ada satu masa dalam hidup, di mana kita bisa membedakan mana sahabat dan mana teman. Pengertian dari keduanya dapat dibedakan. Sahabat adalah orang yang paling mengerti kita, tau apapun yang kita rasakan, kemanapun kita pasti ada dia dan sebagainya. Sebaliknya, teman hanyalah sebagian potongan kecil dari sahabat, tidak terlalu tau akan dirimu, dan tidak terlalu pengertian atas apa yang sering menimpamu di setiap hari.
Ketika aku bisa membedakan dari kedua pengertian itu. Baru lah aku mengenal siapa sahabat dan siapa teman. Aku mulai memisahkan siapa mereka dalam lingkar pertemananku. Ketika itu aku sangat bahagia karena memiliki mereka, terlalu jauh aku menganggap seorang sahabat itu sebegitunya special dalam hidupku. Kemanapun, bagaimanapun, apapun, dimanapun, kenapapun aku selalu melibatkan dia sahabatku.
Salahnya aku yang terlalu bergantung padanya. Hingga aku lupa bahwa dia memiliki lingkar pertemanan yang lain pula. Mungkin saja dia juga memiliki sahabat lain di luar hubungan aku dan dia. Bukan, aku bukan lupa. Tapi aku yang tidak cukup dewasa memandang itu semua.
Masa itu aku sangat kecewa, teramat kecewa pada sahabatku yang mulai memiliki lingkar pertemanan yang baru. Aku merasa ditinggalkan, tersudutkan, padahal tidaklah begitu. Aku saja yang menggangap berlebihan atas apa yang menimpaku. Perlahan aku pergi, dia pergi. Karena sikap diantara kita yang mulai berbeda.
Setiap hari manusia berevolusi. Bertemu dengan orang-orang baru, peristiwa baru dan lembaran yang terus terbuka baru. Setiap siklus kehidupanku, aku bertemu hal baru termasuk orang-orang yang disebut sahabat. Dan lagi, aku keterlaluan menganggap sahabatku adalah orang yang selalu ada untukku. Tempat aku melampiaskan rasa sedihku, atau sekedar menjadi tempatku berbagi cerita.
Dan lagi, aku kecewa karenanya. Teramat kecewa tapi aku tidak bisa mengekspresikan rasa itu. Apa yang kali ini membuatku kecewa? Hampir sama. Karena aku lupa bahwa dia memiliki hak untuk berteman dengan yang lain pula. Dia memiliki kuasa atas apapun yang dia lakukan. Mungkin bagiku melakukan hal itu begitu keterlaluan, tapi baginya mungkin suatu hal yang biasa saja. Kecewa, kesal, marah. Hanya berlangsung puluhan menit saja. setelahnya aku menjadi pribadi yang seperti tidak terjadi apa-apa lagi. Selalu begitu, aku tidak bisa marah.
Setiap orang memiliki hak atas dirinya. Mungkin boleh saja ketika kita memiliki kecemburuan sosial dari apa yang sahabat kita lakukan dengan yang lain. Kita tidak bisa membatasi seseorang untuk berteman. Kita tidak memiliki hak untuk marah atas apa yang sahabat kita lakukan dengan orang lain. Cemburu. Itu pasti. Kita merasa di nomor dua kan, tapi itu tidak seperti apa yang kita pikirkan. Jangan berpikir sahabat adalah orang yang selalu untuk kita. Tidak juga, bukan?
Jangan menganggap apapun itu secara berlebihan. Jangan berharap pada manusia. Jangan menjadi bodoh untuk dianggap ada. Dan jangan menganggap sahabatmu adalah orang yang selalu sedia. Kamu bebas memilih, sahabatmu juga berhak memilih. Tidak ada yang bisa memberi batasan.
Sejak hari itu hingga hari ini. Aku yakin tidak ada sahabat yang sesuai dengan pengertian yang aku buat sendiri. Tidak ada. Karena bisa jadi orang yang tertawa bersama kita hari ini adalah orang asing di kemudian hari. Jika hal itu telah terjadi, apakah akan disebut mantan sahabat? Kejam sekali bukan. Makadari itu aku menganggap semua orang adalah teman. Teman yang menghiasi setiap rona hidupku.