Adakah diantara teman-teman yang tidak percaya akan adanya sahabat
di dunia ini?
Dari kecil yang aku ketahui dalam diriku, aku merupakan anak yang
memiliki lingkar pertemanan yang cukup banyak. Aku tidak suka bermusuhan atau
sekedar berkonflik kecil di lingkaran tersebut. Aku senang berteman, berbagi
bersama teman, atau menikmati masa kecilku bersama.
Entah karena aku merupakan orang yang senang berkawan, ketika aku
kesal atau marah seakan sudah otomatis dalam beberapa menit berlalu aku telah
bisa meredam rasa kesalku. Aku merasa menjadi manusia paling bersalah ketika
aku marah dan kesal berlarut-larut terlalu lama. Meskipun jelas yang memiliki
kesalahan bukan aku misalnya, melainkan teman-temanku.
Ada satu masa dalam hidup, di mana kita bisa membedakan mana
sahabat dan mana teman. Pengertian dari keduanya dapat dibedakan. Sahabat adalah
orang yang paling mengerti kita, tau apapun yang kita rasakan, kemanapun kita
pasti ada dia dan sebagainya. Sebaliknya, teman hanyalah sebagian potongan
kecil dari sahabat, tidak terlalu tau akan dirimu, dan tidak terlalu pengertian
atas apa yang sering menimpamu di setiap hari.
Ketika aku bisa membedakan dari kedua pengertian itu. Baru lah aku
mengenal siapa sahabat dan siapa teman. Aku mulai memisahkan siapa mereka dalam
lingkar pertemananku. Ketika itu aku sangat bahagia karena memiliki mereka,
terlalu jauh aku menganggap seorang sahabat itu sebegitunya special dalam
hidupku. Kemanapun, bagaimanapun, apapun, dimanapun, kenapapun aku selalu
melibatkan dia sahabatku.
Salahnya aku yang terlalu bergantung padanya. Hingga aku lupa bahwa
dia memiliki lingkar pertemanan yang lain pula. Mungkin saja dia juga memiliki
sahabat lain di luar hubungan aku dan dia. Bukan, aku bukan lupa. Tapi aku yang
tidak cukup dewasa memandang itu semua.
Masa itu aku sangat kecewa, teramat kecewa pada sahabatku yang
mulai memiliki lingkar pertemanan yang baru. Aku merasa ditinggalkan,
tersudutkan, padahal tidaklah begitu. Aku saja yang menggangap berlebihan atas
apa yang menimpaku. Perlahan aku pergi, dia pergi. Karena sikap diantara kita
yang mulai berbeda.
Setiap hari manusia berevolusi. Bertemu dengan orang-orang baru,
peristiwa baru dan lembaran yang terus terbuka baru. Setiap siklus kehidupanku,
aku bertemu hal baru termasuk orang-orang yang disebut sahabat. Dan lagi, aku
keterlaluan menganggap sahabatku adalah orang yang selalu ada untukku. Tempat aku
melampiaskan rasa sedihku, atau sekedar menjadi tempatku berbagi cerita.
Dan lagi, aku kecewa karenanya. Teramat kecewa tapi aku tidak bisa
mengekspresikan rasa itu. Apa yang kali ini membuatku kecewa? Hampir sama. Karena
aku lupa bahwa dia memiliki hak untuk berteman dengan yang lain pula. Dia memiliki
kuasa atas apapun yang dia lakukan. Mungkin bagiku melakukan hal itu begitu
keterlaluan, tapi baginya mungkin suatu hal yang biasa saja. Kecewa, kesal,
marah. Hanya berlangsung puluhan menit saja. setelahnya aku menjadi pribadi
yang seperti tidak terjadi apa-apa lagi. Selalu begitu, aku tidak bisa marah.
Setiap orang memiliki hak atas dirinya. Mungkin boleh saja ketika kita
memiliki kecemburuan sosial dari apa yang sahabat kita lakukan dengan yang
lain. Kita tidak bisa membatasi seseorang untuk berteman. Kita tidak memiliki
hak untuk marah atas apa yang sahabat kita lakukan dengan orang lain. Cemburu. Itu
pasti. Kita merasa di nomor dua kan, tapi itu tidak seperti apa yang kita
pikirkan. Jangan berpikir sahabat adalah orang yang selalu untuk kita. Tidak juga,
bukan?
Jangan menganggap apapun itu secara berlebihan. Jangan berharap
pada manusia. Jangan menjadi bodoh untuk dianggap ada. Dan jangan menganggap
sahabatmu adalah orang yang selalu sedia. Kamu bebas memilih, sahabatmu juga
berhak memilih. Tidak ada yang bisa memberi batasan.
Sejak hari itu hingga hari ini. Aku yakin tidak ada sahabat yang
sesuai dengan pengertian yang aku buat sendiri. Tidak ada. Karena bisa jadi
orang yang tertawa bersama kita hari ini adalah orang asing di kemudian hari. Jika
hal itu telah terjadi, apakah akan disebut mantan sahabat? Kejam sekali bukan. Makadari
itu aku menganggap semua orang adalah teman. Teman yang menghiasi setiap rona
hidupku.
No comments:
Post a Comment