1. Judul buku : Sanggeus Halimun Peuray
2. Pengarang : Aam Amilia
3. Penerbit : Rahmat Cijulang
4. Tahun terbit : 1992, Bandung
5. Tebal buku : 76 halaman
6.
Isi Resensi Buku
Diceritakan
ada sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Pasangan
tersebut bernawa Awit dan Inu. Awit merupakan anak dari orang kaya dikampungnya
dan Inu merupakan mahasiswa asal Garut yang sedang kuliah di salah satu
Unniversitas di Bandung. Orangtua keduanya memiliki tali hubungan yang erat
sejak dulu sebelum Awit dan Inu lahir.
Pernikahan
yang tidak didasari rasa cinta akhirnya mereka langsungkan. Inu menikahi Awit
bukan karena dasar apapun, hanya karena Inu ingin membalaskan budi pada
keluarga Awit yang telah membiayai seluruh pengobatan ibunya di rumah sakit.
Ibu Inu jatuh sakit karena ditinggalkan suaminya yang terlebih dulu meninggal
karena sakit.
Terlebih
Inu merasa tidak memiliki harga diri karena Awit telah hamil oleh laki-laki
yang tidak bertanggung jawab dan kabur meninggalkan Awit yang sedang hamil
muda. Inu mau menikahi Awit karena permintaan ibunya sebagai balas budi atas
apa yang diberikan keluarga Awit pada ibu Inu.
Inu
sangat membenci Awit yang sedang mengandung yang bukan anak Inu, sedangkan Inu
harus bertanggung jawab atas kelahiran anak tersebut. Inu merasa sakit hati dan
tidak dihargai. Dia berpikir serendah ini kah harga dirinya hanya karena
nominal uang untuk pengobatan ibunya sehingga Inu yang harus membalaskan
budinya. Sebenarnya kekuarga Awit tidak mempermasalahkan tentang biaya
pengobatan ibu Inu selama di rumah sakit. Hanya saja ibu Inu merasa berhutang
budi yang begitu besar. Dan hanya dengan cara ini ibu Inu merasa bahwa hutang
budi itu akan lunas demi menutupi aib keluarga Awit yang selama ini dinilai
keluarga terpandang di kampungnya.
Dimalam
pertama pernikahan Awit dan Inu, mereka malah bertengkar dan Inu merasa murka
atas apa yang dilakukan nya tempo hari, yaitu mengikat tali pernikahan bersama
Awit. Inu kecewa terhadap dirinya yang tidak bisa membayar budi dengan material
malah dengan hal seperti ini.
Disisi
lain Inu juga memiliki pujaan hati yang sedang menunggu di Garut bernama Mila.
Mila merupakan gadis cantik yang selama ini memiliki ikatan dengan Inu.
Kabarnya Mila tidak mengetahui kabar pernikahan Inu dengan Awit di Bandung. Inu
sangat merasa berdosa telah mengkhianati Mila sebagai kekasihnya yang selama
ini setia padanya. Inu sangat mencintai Mila, tapi dia tidak tau harus berbuat
apa karena dia telah terikat dengan Awit dan melangsungkan pernikahan palsu.
Kian
hari kandungan Awit semakin membesar, Inu berencana meninggalkan Awit dan
pulang ke Garut utuk menikahi Mila setelah Awit melahirkan. Awit sangat
mencintai Inu, dia tidak peduli bahwa Inu mungkin akan meninggalkannya suatu
hari nanti, Awit tetap cinta dan sabar mengahapi Inu yang kian hari terlihat
semakin benci apalagi melihat jabang bayi yang dikandungnya. Entah apa yang
mendasari rasa cinta Awit pada Inu, padahal mereka tidak lebih dekat selama
kurang dari dua minggu.
Inu
merasa terlalu muak dan lama sekali menunggu sang jabang bayi lahir, Mila tidak
bisa menunggu tanpa kapastian terlalu lama. Inu sangat ingin bertemu dengan
Mila dan menjelaskan semua nya. Bahwa Inu masih perjaka tidak pernah menyentuh
Awit, bahwa Inu masih mencintai Mila sampai kapanpun, bahwa Inu akan
meninggalkan Awit setelah jabang bayinya lahir, dan banyak sekali yang akan
dijelaskan Inu pada Mila ketika nanti bertemu.
Akhirnya
Inu pergi meninggalkan Awit yang memasuki hamil tua, tidak peduli akan cibiran
orang dan keluarganya yang meninggalkan Awit sendiri saat kondisi hamil tua.
Baginya yang terpenting adalah bertemu dengan Mila dan menjelaskan semuanya.
Akhirnya
Inu pergi ke Garut untuk menemui kekasih yang selama ini dipujanya yaitu Mila.
Diperjalanan Inu membayangkan betapa bahagianya Mila bertemu dengan Inu,
laki-laki yang selama ini ditunggunya dengan kesetiaan. Inu sangat siap
menjemput Mila dan membawanya kemanapun mereka mau. Semua hal tentang
kebahagiaan di bayangkan oleh Inu, hingga tidak terasa perjalanan yang memakan
waktu terasa lebih pendek dari biasanya.
Akhirnya
Inu sampai di Garut dan pulang ke rumahnya beristirahat. Selang satu hari Inu
langsung menemui Mila dan ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Inu,
ditakutkan Mila lebih tahu dari cerita oranglain, itu akan lebih menyakiti
Mila. Tapi nyali Inu tidak sebesar apa yang sudah direncanakan, Inu tidak
berani bilang tentang apa yang terjadi. Pertemuan mereka hari itu sebatas
melepas rindu hingga malam tiba.
Sebelumnya
Yuyum pernah berkata ketika Inu pulang ke rumah, bahwa Mila sering jalan dengan
lelaki lain, tapi Yuyum tidak secara rinci menceritakan apa yang dia lihat,
karena ibunya berpesan untuk tidak menyakiti hati dan menggangu pikiran
kakaknya yang sedang ditekan ujian akhir dan tugas kuliahnya.
Hanya tinggal menghitung
bulan, Awit akan segera melahirkan. Inu sangat benci terhadap Awit, sehingga
Inu jarang pulang ke rumah Awit. Inu memilih tinggal di kost-kostan bersama
temannya bernama Obos.
Selang
satu bulan dari kepulangannya ke Bandung, Mila mengirim surat pada Inu, dalam
suratnya diceritakan bahwa Mila sudah mendengar cerita tentang apa yang
dilakukan Inu di Bandung. Mila sudah mengetahui bahwa Inu telah menikah dengan
Awit tanpa sepengetahuan Mila. Mila merasa kecewa karena mereka telah mengikat
janji untuk melangsungkan pernikahan setelah Inu lulus kuliah. Mila merasa
terkhianati. Dalam suratnya diceritakan bahwa Mila telah menemukan pengganti
Inu, dan akan melangsungkan pernikahan dua minggu setelah surat itu dibaca Inu.
Hati Inu sungguh hancur, bisa secepat itu Mila melupakan Inu. Melupakan janji
yang sudah dirajut bertahun-tahun. Inu membakar surat dan foto imut Mila. Dan
semua kenangan yang pernah mereka ukir.
Dari
surat itu, Inu semakin menyalahkan pada Awit. Bahwa dia benar-benar telah
menghancurkan hidupnya. Karena pernikahan palsu ini lah Inu merasa bawha Mila
meninggalkan Inu. Mengkhianati kesetiaanya. Inu semakin benci pada Awit yang
saat itu Awit sedang hamil tua. Inu berinisiatif untuk pergi, karena
pemikiraannya yang tidak karuan dan penuh amarah. Pada hari itu pula Awit akan
segera melahirkan. Awit kesakitan dan meminta tolong. Tanpa pamrih, Inu tidak
peduli malah mencaci maki Awit yang sudah kontraksi dan segera melahirkan.
Akhirnya dia pergi dengan penuh amarah meninggalkan Awit yang tergeletak di
pintu rumah.
Inu
pergi ke kost-kostan Obos sahabatnya dan menceritakan kehancuran hidupnya. Inu menceritakan Mila
yang akan segera menikah, dan menceritakan Awit yang mempersuram hidupnya.
Tanpa Inu sadari bahwa selama ini Awit lah yang berusaha sabar menghadapi Inu.
Tapi Inu terasa buta hatinya, merasa bahwa Mila lah satu-satunya harapannya. Sehingga
ketika terputusnya tali Inu dan Mila maka itulah akhir dari segalanya.
Obos
memberi solusi yang tidak baik terhadap Inu. Obos menawarkan banyak wanita
cantik yang masih mau pada Inu. Satu persatu Obos kenalkan pada Inu, jumlahnya
lumayan banyak sekitar lima orang sebagai pelampiasan. Tapi apa daya, Inu tidak
merasakan cinta pada kelimanya. Hanya sekedar suka yang mendasarinya.
Obos
menjadi pemanas bagi Inu, dia mendesak Inu agar melampiaskan rasa kesalnya
dengan melakukan hubungan terlarang pada Ira, salah satu dari lima wanita yang
dipilihkan Obos untuk Inu. Pada hari itu, nafsu dan amarah Inu tidak
terkendali, sehingga terjadilah hubungan terlarang diantara Inu dan Ira.
Satu
bulan Inu tidak pulang ke rumah Awit, juga tidak memberi kabar pada keluarganya
di Garut. Akhirnya Yuyum mengirimi Inu surat. Dalam suratnya berisi bahwa Yuyum
dan ibunya merasa khawatir karena mendapat kabar dari Awit Inu tidak ada kabar.
Sehingga Yuyum akan ke Bandung dan bertemu dengannya. Isi surat lain
menceritakan bahwa Mila sudah melangsungkan pernikahan, dan Yuyum memberitahu
yang sebenarnya pada Inu. Bahwa Mila sudah lama menjalin hubungan dengan lelaki
yang menikahinya itu jauh sebelum Inu memutuskan melangsungkan pernikahan palsu
dengan Awit. Mila sering jalan berdua. Dari sana Inu merasa berdosa dan
menyesali apa yang telah diperbuatannya. Dia menyesal telah menyalahkan Awit
sebagai biang racun dari berakirnya hubungan dia dengan Mila.
Dari
situlah Inu sadar bahwa selama ini yang telah dia lakukan salah terhadap Awit.
Inu baru sadar bahwa cinta kasih yang diberikan Awit adalah tulus. Inu memang
murka karena Awit telah menjual dirinya terhadap lelaki hidung belang yang
tidak mau bertanggung jawab terhadapnya. Inu merasa jijik, tapi apa yang telah
Inu dan Ira perbuat juga merupakan perbuatan yang dilaknat. Apa bedanya Inu
dengan Awit jika Inu juga melakukan hal serupa?
Dia
berpikir dan ingat apa nasihat ibunya. Bahwa manusia tidak luput dari dosa dan
khilaf. Mungkin Awit saat itu berada di posisinya, yaitu khilaf. Dia termakan
omongan hidung belang sehingga terjadilah perbuatan laknat itu dan menimpa
dirinya. Sama seperti apa yang dilakukanya terhadap Ira malam itu. Bukan
berarti Awit merupakan wanita jalang yang haus akan belaian lelaki manapun. Inu
baru menyadarinya.
Akhirnya
Inu memutuskan pulang pada Awit dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Sudah
tidak ada pernikahan palsu. Inu ingin serius menjalin hubungan dengan Awit dan
meminta maaf.
Saat
pulang ke rumah Awit, ternyata Awit sudah pindah dan rumahnya dihuni oleh kedua
orangtuanya Awit. Awit sudah melahirkan dan memiliki bayi perempuan. Awit
pindah karena dasar malu karena dicibir tetangga bahwa bayi itu tidak memiliki
bapak yang jelas, karena Inu baru saja pulang lagi. Inu termengu dan
membayangkan Awit yang kesepian.
Setelah
Inu mengantongi alamat baru Awit, akhirnya dia pergi menemui Awit dengan maksud
ingin meminta maaf atas apa yang selama ini di lakukannya. Terlihat rumah yang
tidak terlalu besar, Awit tinggal bersama Mak Uti, pembantu yang sebelumnya
tinggal bersama ibunya. Mak Uti menyambut bahagia atas kedatangan Inu. Setelah
masuk Inu melihat ada bayi suci dikamar Awit. Sedangkan Awit tidak ada, karena
Awit bekerja untuk membiayai putrinya.
Bayi
mungil itu bernama Ina, nama itu Awit berikan karena dasar rasa cinta Awit yang
begitu besar terhadap Inu. Mak Uti menceritakan. Inu merasa terharu dan
membenci dirinya sendiri, kemana saja dirinya ini sehingga menyia-nyiakan Awit
yang sangat mencintai Inu.
Hingga
sore, Inu menemani bayi mungil itu akhirnya Awit datang diantar mobil mewah
kedapan rumahnya. Hati Inu terbakar cemburu, tapi apa daya hubungan mereka
sebatas pernikahan palsu. Inu tidak bisa menyembunyikan amarahnya sehingga Inu
menjadi kasar pada Awit. Padahal tempo hari itu Inu berniat meminta maaf pada
Awit.
Awit
tidak memahami maksud Inu, bagi Awit kedatangan Inu hanya untuk menguruskan
surat perceraian, karena dalam perjanjian mereka akan bercerai setelah bayi
Awit lahir. Mak Uti bercerita pada Awit betapa Inu menyayangi Ina. Inu
menggendong penuh kasih sayang setadi siang. Awit merasa tidak percaya atas apa
yang dilakukan Inu.
Tiga
hari kemudian Ina menderita sakit yang cukup parah. Awit tidak memiliki uang
sama sekali untuk membawa Ina ke rumah sakit. Disisi lain dia ingin membuktikan
bahwa dia adalah ibu yang bertanggung jawab, sehingga Awit memutar otak, apa yang harus dilakukan.
Akhirnya dengan memberanikan diri Awit meminjam uang ke kantor tempat dia
bekerja untuk kesembuhan Ina.
Saat
Awit pulang, Ina sudah tidak ada di kamar. Mak Uti menjelaskan bahwa Ina dibawa
oleh Inu ke rumah sakit. Awit sungguh khawatir dan menyusul Ina ke rumah sakit.
Dilihatnya Inu sedang menunggu Ina yang tidak berdaya. Dari sana Awit tahu
bahwa Inu sungguh-sungguh mencintai Ina bayinya.
Percakapan
singkat diantara mereka akhirnya tercipta setelah lama membeku. Sudah tidak ada
lagi pernikahan palsu diantara mereka. Hanya kebahagiaanlah yang sekarang
tercipta dengan hadirnya seorang bayi cantik benama Ina. Mereka berjanji akan
tetap saling menjaga.
7.
Penilian Kelebihan dan Kekurangan Buku
a.
Kekurangan buku
1.
Penggunaan kata yang lumayan sulit dipahami
karena menggunakan bahasa Sunda yang sudah jarang didengar dan digunakan.
2.
Penggunaan bahasa yang kurang pas dibaca oleh
pembaca usia dini karena terdapat kata-kata diatas 18 tahun keatas
3.
Ending yang tidak jelas apakah Inu dan Awit
melangsungkan hidup baru atau tidak
4.
Sulit membaca makna yang terkandung dalam
ceritanya
b.
Kelebihan buku
1.
Sulit ditebak alur ceritanya
2.
Penggunakan kalimat yang baik dan puitis
3.
Mengandung banyak makna jika dipahami secara
fokus
4.
Tidak bertele-tele, langsung pada inti mana yang
dituju
5.
Banyak kosa kata baru yang bila diterjemahkan
mengandung banyak arti.
8. Penutup
Dalam
novel Bahasa Sunda ini saya menemukan banyak kosakata baru, menemukan banyak
hikmah yang terkandung dalam novel ini. Setiap novel pasti memiliki banyak
kelebihan dan kekurangan yang masing-masing menajadi daya tarik dan saling
melengkapi. Begitupun novel “Sanggeus Halimun Peuray” yang telah saya baca.
Koq gak diceritakan di sini, kenapa awit bisa hamil? Kan ada kenapanya, sebab awit hamil tanpa dinikahi pacarnya... Btw, pengen nonton filmnya lagi dech. Kadang2 film jadul, lebih mendayu daripada film zaman now. Mungkin karena bahasanya masih Indonesia bgt 😊
ReplyDelete